MERAJUT TENUN KEBANGSAAN

                           Ini Soal Tenun Kebangsaan. Titik!    

  46JOKOWI TEMUI ANIES BASWEDAN

Republik ini tidak dirancang untuk melindungi minoritas. Tidak juga untuk melindungi mayoritas.

Republik ini dirancang untuk melindungi setiap warga negara, melindungi setiap anak bangsa!

Tak penting jumlahnya, tak penting siapanya. Setiap orang wajib dilindungi. Janji pertama Republik ini: melindungi segenap bangsa Indonesia. Saat ada warga negara yang harus mengungsi di negeri sendiri, bukan karena dihantam bencana alam tetapi karena diancam saudara sebangsa, Republik ini telah ingkar janji. Akhir-akhir ini nyawa melayang, darah terbuang percuma ditebas saudara sebahasa di negeri kelahirannya. Kekerasan terjadi dan berulang. Lalu berseliweran kata minoritas, mayoritas di mana-mana.
Bangsa ini harus tegas: berhenti bicara minoritas dan mayoritas dalam urusan kekerasan. Kekerasan ini terjadi bukan soal mayoritas lawan minoritas. Ini soal sekelompok warga negara menyerang warga negara lainnya. Kelompok demi kelompok warga negara secara kolektif menganiaya sesama anak bangsa. Mereka merobek tenun kebangsaan!
Tenun kebangsaan itu dirobek, diiringi berbagai macam pekikan seakan boleh dan benar. Kesemuanya terjadi secara amat eksplisit, terbuka dan brutal. Apa sikap negara dan bangsa ini? Diam? Membiarkan? Tidak! Republik ini tak pantas loyo-lunglai menghadapi warga negara yang pilih pakai pisau, pentungan, parang, bahkan pistol untuk ekspresikan perasaan, keyakinan, dan pikirannya. Mereka tidak sekadar melanggar hukum, tetapi merontokkan ikatan kebangsaan yang dibangun amat lama dan amat serius ini.
Mereka bukan cuma kriminal, mereka perobek tenun kebangsaan. Tenun kebangsaan itu dirajut dengan amat berat dan penuh keberanian. Para pendiri republik sadar bahwa bangsa di Nusantara ini amat bineka. Kebinekaan bukan barang baru. Sejak negara ini belum lahir semua sudah paham. Kebinekaan di Nusantara adalah fakta, bukan masalah! Tenun kebangsaan ini dirajut dari kebinekaan suku, adat, agama, keyakinan, bahasa, geografis yang sangat unik. Setiap benang membawa warna sendiri. Persimpulannya yang erat menghasilkan kekuatan. Perajutan tenun ini pun belum selesai. Ada proses terus-menerus. Ada dialog dan tawar-menawar antar-unsur yang berjalan amat dinamis di tiap era. Setiap keseimbangan di suatu era bisa berubah pada masa berikutnya.

Warga Negara, Penganut Agama
Dalam beberapa kekerasan belakangan ini, salah satu sumber masalah adalah kegagalan membedakan ”warga negara” dan ”penganut sebuah agama”. Perbedaan aliran atau keyakinan tak dimulai bulan lalu. Usia perbedaannya sudah ratusan, bahkan ribuan tahun dan ada di seluruh dunia. Perbedaan ini masih berlangsung terus dan belum ada tanda akan selesai minggu depan. Jadi, di satu sisi, negara tak perlu berpretensi akan menyelesaikan perbedaan alirannya. Di sisi lain, aliran atau keyakinan bisa saja berbeda tetapi semua warga negara republik sama. Konsekuensinya, seluruh tindakan mereka dibatasi aturan dan hukum republik yang sama. Di sini negara bisa berperan.
Negara memang tak bisa mengatur perasaan, pikiran, ataupun keyakinan warganya. Namun, negara sangat bisa mengatur cara mengekspresikannya. Jadi, dialog antar-pemikiran, aliran atau keyakinan setajam apa pun boleh, begitu berubah jadi kekerasan, maka pelakunya berhadapan dengan negara dan hukumnya. Negara jangan mencampuradukkan friksi/konflik antarpenganut aliran/keyakinan dengan friksi/konflik antarwarga senegara.
Dalam menegakkan hukum, negara harus melihat semua pihak semata sebagai warga negara dan hanya berpihak pada aturan. Aparat keamanan harus hadir melindungi ”warga-negara” bukan melindungi ”pengikut” keyakinan/ajaran tertentu. Begitu pula jika ada kekerasan, aparat hadir untuk menangkap ”warga-negara” pelaku kekerasan, bukan menangkap ”pengikut” keyakinan yang melakukan kekerasan.
Menjaga tenun kebangsaan dengan membangun semangat saling menghormati serta toleransi itu baik dan perlu. Di sini pendidikan berperan penting. Namun, itu semua tak cukup dan takkan pernah cukup. Menjaga tenun kebangsaan itu juga dengan menjerakan setiap perobeknya. Bangsa dan negara ini boleh pilih: menyerah atau ”bertarung” menghadapi para perobek itu. Jangan bangsa ini dan pengurus negaranya mempermalukan diri sendiri di hadapan penulis sejarah bahwa bangsa ini gagah memesona saat mendirikan negara bineka tetapi lunglai saat mempertahankan negara bineka.
Membiarkan kekerasan adalah pesan paling eksplisit dari negara bahwa kekerasan itu boleh, wajar, dipahami, dan dilupakan. Ingat, kekerasan itu menular. Dan, pembiaran adalah resep paling mujarab agar kekerasan ditiru dan meluas. Pembiaran juga berbahaya karena tiap robekan di tenun kebangsaan efeknya amat lama. Menyulam kembali tenun yang robek hampir pasti tak bisa memulihkannya. Tenun yang robek selalu ada bekas, selalu ada cacat.
Ada seribu satu pelanggaran hukum di Republik ini, tetapi gejala merebaknya kekerasan dan perobekan tenun kebangsaan itu harus jadi prioritas utama untuk dibereskan. Untuk menyejahterakan bangsa semua orang boleh ”turun-tangan”, tetapi menegakkan hukum hanya aparat yang boleh ”turun-tangan”. Penegak hukum dibekali senjata tujuannya bukan untuk tampil gagah saat upacara, melainkan untuk melindungi warga negara saat menegakkan hukum. Negara harus berani dan menang ”bertarung” melawan para perobek. Saat tenun kebangsaan terancam itulah negara harus membuktikan di Republik ini ada kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat tetapi tak ada kebebasan melakukan kekerasan.
Aturan hukumnya ada, aparat penegaknya komplet. Jadi, begitu ada warga negara yang pilih melanggar dan meremehkan aturan hukum untuk merobek tenun kebangsaan, sikap negara hanya satu: ganjar mereka dengan hukuman yang amat menjerakan. Bukan cuma tokoh-tokohnya yang dihukum. Setiap gelintir orang yang terlibat dihukum tanpa pandang agama, etnis, atau partai. Itu sebagai pesan pada semua: jangan pernah coba-coba merobek tenun kebangsaan! Ketegasan dalam menjerakan perobek tenun kebangsaan membuat setiap orang sadar, memilih kekerasan sama dengan memilih diganjar dengan hukuman menjerakan. Ada kepastian konsekuensi.
Ingat, Republik ini didirikan oleh para pemberani: berani dirikan negara yang bineka. Kini pengurus negara diuji. Punyakah keberanian untuk menjaga dan merawat kebhinekaan itu secara tanpa syarat. Biarkan kita semua—dan kelak anak cucu kita—bangga bahwa Republik ini tetap dirawat oleh para pemberani.

Anies Baswedan

Lihat tulisannya di http://aniesbaswedan.com/tulisan/Ini-Soal-Tenun-Kebangsaan-Titik

Iklan

Jati Diri Karang Taruna Membangun Bangsa

Jati Diri KATA
Jakarta– Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Gunawan Sumodiningrat menilai masih belum banyak literatur tentang kiprah pemuda Indonesia dalam membangun desanya. Padahal, banyak anak muda di pelosok nusantara yang memiliki  kepedulian tinggi terhadap lingkungannya.
“Tidak banyak buku yang ditulis anak-anak muda tentang  tentang bagaimana peran pemuda desa dalam mengatasi masalah kesejahteraan sosial, padahal potensinya ada,” kata Gunawan dalam bedah buku “Jati Diri Karang Taruna Membangun Bangsa” di Gedung Wanabakti Wanita Tama, Yogyakarta, Minggu.
Dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, minggu, juga menyebutkan bahawa acara tersebut juga dihadiri Kasubdit Karang Taruna Kementerian Sosial, Afrizon Tanjung, Ketua Karang Taruna Daerah Istimewa Yogyakarta GKR Pembayun dan Sosiolog Faraz Umaya.
Menurut Gunawan, Karang Taruna sebagai organisasi sosial yang berkiprah nyata di desa, diharapkan membudayakan menulis buku soal perjuangan mereka dalam mengatasi persoalan sosial di desa.  “Supaya perjuangan itu bisa menjadi inspirasi bagi anak muda lainnya,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Nasional Karang Taruna, Taufan E.N. Rotorasiko mengatakan, Karang Taruna yang sudah berusia 51 tahun adalah bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan desa, sehingga sudah saatnya peran nyata itu dituangkan dalam sebuah buku.
“Buku ini ditulis untuk menyemangati pemuda desa di seluruh Nusantara untuk menggali nilai-nilai kekarangtarunaan serta berbagi kisah perjuangan, kerja keras mereka sebagai pemuda khususnya pengurus Karang Taruna, dalam membangun desa dan mengatasi permasalahan kesejahteraan sosial,” ujarnya.
Ditambahkannya, budaya literasi harus dikembangkan di kalangan anak muda dalam menuangkan gagasan, konsep pemikiran dan aspirasi dalam membangun bangsa. Apalagi, banyak pemuda desa yang menjadi pelopor dalam mensejahterakan masyarakat sekitarnya.
“Para pemuda itu tidak berdiam diri. Mereka bekerja dan bisa menjadi contoh dan inspirasi bagi pemuda lainnya. Menuangkan inspirasi itu dalam bentuk buku adalah bagian dari upaya mendidik pemuda Indonesia yang berkarakter,” katanya.

Menurut Taufan, membangun Indonesia harus dimulai dari desa. “Karang Taruna bertekad untuk menciptakan lebih banyak pemuda yang membangun desa,” katanya.

KPU tetapkan 10 PARPOL peserta PEMILU 2014

Setelah menggelar Rapat Pleno Rekapitulasi hasil Verifikasi Faktual di Ruang Sidang KPU Jl. Imam Bonjol No.29 Jakarta, Selasa 8/01/2013 KPU akhirnya memutuskan :

Keputusan KPU Nomor: 05/Kpts/KPU/Tahun 2013

Ke 10 Parpol yang ditetapkan sebagai peserta Pemilu 2014 adalah:
1. Partai Amanat Nasional (PAN)
2. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)
3. Partai Demokrat;
4. Partai Gerindra;
5. Partai Golkar;
6. Partai Hanura;
7. Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
8. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
9. Partai Nasional Demokrat (Nasdem)
10. Partai Persatuan Pembangunan (P3).

10-parpol-pemilu-2014 i

 

544022_250431195088283_298419285_n

24 PARPOL yang tidak Memenuhi syarat:
1. PBB
2. PDKP
3. PKPI
4. PKBIB
5. PPRN
6. PPN
7. PBI
8. Partai Buruh
9. PDS
10. PDK
11. PKPB
12. PAKAR
13. PKNU
14. Partai Kedaulatan
15. PKDI
16. Partai Kongres
17. PNBKI
18. PNI
19. Partai Nasrep
20. PPDI
21. PPPI
22. Partai Republik
23. Partai Republika Nusantara
24. Partai Serikat Rakyat Independen.

Konsolidasi Blue Forces dalam Memenangkan Pemilukada DKI Jakarta 2012

Bertempat di Markas Blue Forces-ING Jl. KH.Mas Mansyur No.77 Kel.Kebon Melati Tanah Abang Jakarta Pusat, Rabu, 25 Juli 2012 sekaligus Buka Puasa bersama, Acara Konsolidasi dipimpin langsung oleh Erwin H.Al-Jakartaty Commandante Blue Forces-ING,
Hadir pada acara tersebut Rahmat H.S Ketum Forum Pemuda Betawi (FPB), Denny Barja Wk Ketua BARINDO, Hj Ayyie Ketum AMPIJA, Endri Permana Sekjen BRIGADE NUSANTARA, Ardy Gebang Ketum Forum Pemuda NTT, Ajat Sudrajat Ketum Komunitas Masyarakat Mandiri (KMM), Ivan Ardyansyah Ketum Aliansi Pro Rakyat, Iskandar Retno Ketum Asosiasi Musisi Anak Tanah Air, Humpry F.Lantang Atlantik Enterprise, Ibob R Sekjen Forum Masyarakat Andalas BangkiT (ForMAT Andalas), Konsolidasi juga dihadiri Pengurus Blue Forces, Komite Markas Wilayah (KMW) DKI Jakarta Ocho Santoso, Komite Markas Daerah (KMD) 5 kota Administrasi.
Tema Konsolidasi ” Selamatkan Jakarta bersama Fauzi Bowo & Nahrowi Ramli”
”Kita (tim sukses Foke) tidak membuka semua strategi kemenangan Foke-Nara dulu ke media. Kita fokus berkonsilidasi, berkoordinasi, dan mengevaluasi kinerja di Pilkada Jakarta putaran pertama kemarin. Terlepas dari hasil terakhir di putaran pertama yang membuat kita sedih, di luar prediksi dan itu membuat kita kaget,” ujar, Erwin H Al-Jakartaty .
Menurutnya, apa yang diperoleh tim Foke-Nara di putaran pertama adalah ujian menjelang bulan Ramadhan supaya berintropeksi diri. Mungkin Foke dianggap terlalu percaya diri dan isu itu dijadikan senjata oleh ’lawan’ politik di Pilkada Jakarta 2012 putaran pertama.
Ia pun menjelaskan, dirinya dan kawan relawan Foke-Nara mengintrospeksi diri dengan melakukan perombakan kinerja. Semua tim sukses turun ke bawah, khususnya Foke-Nara turun langsung ke masyarakat.  Mendengarkan aspirasi warga dan lebih dekat dengan masyarakat. Selain itu, pihaknya akan fokus bekerja dan terus tersenyum.
”Karena alasan itu saya tidak tertarik membahas ’fitnah’ yang diembuskan oleh beberapa pihak bahwa tim sukses Foke melakukan black campaign. Karena pihak Foke tidak akan pernah mengagendakan strategi kampanye seperti itu. Foke sebagai Gubernur DKI Jakarta tak mungkin melakukan hal tersebut. Apalagi Foke tokoh yang disimbolkan sebagai kaum pluralis,” lanjutnya.
Ia curiga isu SARA yang berhembus berasal dari pihak lawan atau bahkan pihak ketiga.  ”Di dunia politik, apa saja bisa dilakukan untuk memenangkan pemilu,” sambung Commandante Blue Forces Indonesia Next Generations, sebuah organisasi pemuda yang mendukung Foke-Nara .
Pihak Foke akan menggarap massa mengambang yang jumlahnya mencapai 2,5 juta suara, yang tidak dikerjakan secara serius di putaran pertama. Sedangkan basis massa suara Foke-Nara yang digarap serius di putaran pertama, namun tidak mendapatkan hasil optimal, akan tetap digarap di putaran kedua.
”Koalisi yang akan kita bangun adalah koalisi rakyat untuk melanjutkan pembangunan Jakarta yang sudah berjalan. Jangan sampai pemimpin Jakarta ke depan memiliki kepentingan politik. Seperti tage line Jakarta Baru. Jakarta Baru seperti apa yang diinginkan ??” tanya Erwin.

Temu Karya Nasional (TKN) VI Karang Taruna (KaTa)

Temu Karya Nasional Karang Taruna merupakan forum tertinggi Karang Taruna, yang dilaksanakan untuk memilih dan menetapkan pengurus serta menetapkan program kerja Pengurus Nasional Karang Taruna. Pada tahun 2010, kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 12 s.d 14 Juni 2010 di Ternate, Maluku Utara. Hadir dalam acara tersebut para pengurus Karang Taruna Provinsi dari seluruh Indonesia, Pengurus Nasional Karang Taruna dan Majelis Pertimbangan Karang Taruna.

Temu Karya Nasional menjelang ulang tahun Karang Taruna ke-50 merupakan momentum strategis untuk mengevaluasi penyelenggaraan pemberdayaan Karang Taruna, demikian dikatakan Dirjen Pemberdayaan Sosial, Drs. Rusli Wahid ketika membuka acara tersebut.

Karang Taruna sebagai organisasi kepemudaan di perdesaan, dengan jumlah sebanyak 62.096 organisasi di pusat dan daerah, merupakan potensi dan sumber kesejahteraan sosial serta komponen terdepan dalam menggerakkan pemuda untuk bersama dengan pemerintah mengatasi berbagai permasalahan kesejahteraan sosial.

Pada acara tersebut, terpilih Taufan Eko Nugroho Rotorasiko sebagai ketua umum Karang Taruna periode 2010 – 2015.
Taufan terpilih menggantikan Ketua Umum periode sebelumnya, Doddy Susanto, dalam Temu Karya Nasional (TKN) VI Karang Taruna di Ternate, Maluku Utara,

Taufan E.N. Rotorasiko menghadiri acara PRASASTI JAKARTA BAGUS

Calon Gubernur No. 6 Alex Noerdin, bersama Cagub Faisal Basri & Cawagub Riza Patria, Sempat hadir sebentar Cawagub No.4 Didik Rabu sore (04/07)  bertempat di  Taman Ismail Marzuki, menandatangani Prasasti Jakarta Bagus. Penandatangan prasasti ini dimaksudkan untuk mengingatkan para Cagub-Cawagub DKI Jakarta akan janji mereka selama kampanye.
Penandatanganan Prasasti Jakarta Bagus, sedianya dilakukan oleh ke-6 pasang Cagub-Cawagub DKI Jakarta yang bertarung pada Pemilukada DKI Jakarta 2012.
Prasasti Jakarta Bagus digagas oleh JakartaBagus.Com (JBC), bersama Rakyat Merdeka Online (RMOL). Pada prasasti yang ditandatangani oleh para kandidat ini, masing-masing termuat janji dan program kerja yang diusung para Cagub-Cawagub DKI Jakarta. Hal ini dilakukan sebagai langkah untuk mengawasi sejauh mana janji tersebut dapat dipenuhi, bila nanti salah satu dari Cagub-Cawagub ini terpilih pada pemilukada DKI Jakarta.
Penandatanganan prasasti Jakarta Bagus sendiri disaksikan oleh Pimpinan Rakyat Merdeka, Teguh Santosa, Wakil Ketua KPUD Jakarta, Suhartono, Ketua Panwaslu Jakarta, Ramdansyah, Ketua DPP KNPI sekaligus Ketua Karang Taruna Nasional  Taufan E.N.Rotorasiko, serta Pimpinan JakartaBagus.Com. dan Relawan Pemburu Mayat atau yg lebih dikenal dengan Relawan Dibo Piss yg diKomandoi oleh Firman Abadi. Ketua PanPel, Oddy Karamoy, menyatakan keyakinannya bahwa semua pasangan cagub dan cawagub akan membuat Jakarta menjadi lebih bagus.

134149931442558587

1341499204872182031