Temu Karya KATA Kecamatan Kebayoran Lama Jakarta Selatan

150650_529057713779035_1912292592_nTemu Karya-KATA

 

Iklan

TAGANA berdayakan “Generasi Muda”

Tagana (Taruna Siaga Bencana), adalah suatu organisasi sosial yang bergerak dalam bidang penanggulangan bencana alam dan bencana sosial yang berbasiskan masyarakat. Pembentukan Tagana merupakan suatu upaya untuk memberdayakan dan mendayagunakan generasi muda dalam berbagai aspek penanggulangan bencana, khususnya yang berbasis masyarakat. Keberadaan Tagana di DKI Jakarta selama sekitar 6 tahun ini ( Desember 2006) 381751_10150403929507781_531712780_8475175_833229937_n

Taruna Siaga bencana

Taruna Siaga bencana

telah banyak melakukan kegiatan kemanusiaan dalam bencana dan kegiatan kesejahteraan sosial yang akhirnya menjadi salah satu organisasi yang diterima oleh masyarakat. Selain itu hampir semua anggota Tagana telah mengikuti pelatihan dibidang penanggulangan bencana dan bidang kesejahteraan sosial, menyebabkannya mampu melaksanakan aneka peranan di bidang penanggulangan bencana. Sebagai suatu organisasi, Tagana mampu mengembangkan program dan kegiatannya secara berkelanjutan. Tagana sebagai relawan penanggulangan bencana berbasis masyarakat yang bermartabat dan handal di bidang bantuan sosial harus dibekali keahlian yang cukup, pendidikan dan pelatihan secara periodik. (ziz)

Yth Bung Hatta (Sebuah Apresiasi untuk para Pahlawan dihari Pahlawan 10 Nopember)

BUNG HATTA

Proklamator & Bpk Koperasi

Assalamu’ alaikum Bung Hatta. Sungguh saya berharap, Bung dalam keadaan bahagia, tak kurang suatu apa pun dalam tidur panjang ini. Mengenai kami di sini, dengan kesedihan yang teramat dalam, saya kabarkan bahwa kami tidak dalam keadaan baik-baik. Kami sekarang ini sedang menghadapi sebuah cobaan berat (sebagian bahkan menyebutnya sebagai ‘hukuman Tuhan’).

Jika Bung heran kenapa saya menyurati Bung di alam sana, baiklah, saya akan berterus terang: karena saya tidak melihat satu pun dari mereka yang hidup yang saya percaya dapat berbuat sesuatu untuk meringankan beban ini. Saya lihat, mereka sudah tidak dapat melihat lagi. Mereka semua buta. Mereka semua tuli. Mereka semua lumpuh. Karena itu, mereka bicara, bicara, bicara, bicara, bicara… Tidak ada yang mau diam.

(Saya teringat kisah ketika Bung hadir dalam penandatanganan penyerahan kedaulatan atas wilayah Nusantara. Bung hadir sebagai wakil Indonesia, sementara Ratu Juliana mewakili pemerintah Belanda. Saat itu, orang menggambarkan Bung “duduk diam seperti patung Budha.” Bibir tipis Bung lebih banyak diam dan membiarkan otak, tangan, kaki [dan hati yang selalu ingin memberi] melakukan fungsinya dengan segenap kemampuan.)

Saya rindu kepadamu, Bung Hatta. Rindu seorang warganegara kepada pemimpinnya. Kerinduan seorang pengikut kepada pemimpinnya. Serasa tak tertahankan kerinduan ini. Saat Anda meninggalkan kami, saat itu pula rasa hormat saya pada pemimpin ikut terkubur. (Sekarang, setelah menghitung-hitung kembali, tiba-tiba saya sadari, sudah lebih dari 20 tahun perasaan itu terkubur. Mungkin sudah terurai oleh bakteri-bakteri pengurai…)

Kini, Bung, saya sudah lupa bagaimana nikmatnya memiliki rasa hormat kepada pemimpin. Sudah terlalu lama ia hilang, digantikan oleh penderitaan akibat dominasi rasa muak.

Saya tidak minta apa-apa kepada Bung, karena Bung sudah tidak hadir lagi di alam sini. Bukan untuk itu saya menulis surat ini. Soal meminta, tentu saya hanya akan memohon kepada Sang Pengasih, yang telah berkenan menghadirkan Bung untuk turut menyebarkan kasih-Nya di bumi ini. Adapun maksud saya menulis surat ini semata-mata untuk mencoba mengobati kerinduan yang telah lama terkubur itu.

Maka, biarlah saya mengumbar kata-kata ini, sekadar untuk mengurangi rasa perih di dada, terutama ketika saya bertemu Bulik Ti, tetangga saya penjual rujak di kampung. Bung tahu, sejak lama ia mengeluh tentang harga beras yang terus naik, terasa makin sulit baginya untuk memberi makan anak-anaknya. Sudah beberapa tahun ini saya mencoba menghindar darinya. Maafkan saya, saya sungguh tak berani berbicara lama-lama dengannya. Bisa Bung bayangkan, sejak tahun 70-an Bulik Ti mengeluh tentang harga beras. Saat itu pun perihnya sudah terasa sampai ke ulu hati. Saya tak percaya bahwa saya sanggup mendengar keluhan yang lebih hebat itu sekarang ini…

Mohon maaf juga karena saya tidak berbuat apa-apa untuk memperbaiki keadaan. Saya cuma warganegara biasa, Bung. Kalau pun saya bicara, mereka tidak akan mendengar saya. Lagi pula, bagaimana mungkin bicara kepada orang-orang yang terus-terusan bicara dan tidak mau mendengar. Saya jelas tak setangguh Bung, yang tetap saja menulis surat kepada pemerintahannya Soeharto, kendatipun Bung tahu bahwa mereka juga enggan mendengar.

Bung Hatta tercinta,

Beberapa tahun lalu saya baca di koran tentang kekayaan para pemimpin negara ini. Jumlahnya besar sekali, Bung. Sampai bermiliar-miliar! Iseng-iseng saya berhitung: seberapa besar jasa yang telah mereka berikan kepada masyarakat, sehingga mereka dapat imbalan harta miliaran?

Lalu, saya coba bandingkan dengan jasa Bung semasa hidup: berjuang sejak usia muda, masuk kerangkeng, dibuang ke pengasingan, berdiri diam-tenang di samping Bung Karno ketika memproklamasikan kemerdekaan Indonesia (sungguh, itu membutuhkan keberanian moral yang luar biasa tinggi!). Sedangkan imbalan yang Bung terima adalah sebuah rumah dan uang pensiun. Saya tahu itu belum memadai untuk menghidupi pola hidup Bung yang teramat bersahaja untuk ukuran seorang pemimpin. Saya baca, Bung juga dapat tambahan penghasilan dari mengajar dan menulis. Tapi, itu pun ternyata belum menutupi, karena ada sanak-famili Bung yang diam-diam turut membantu.

Saya juga tidak pernah membayangkan bahwa para pemimpin masa kini menulis surat kepada Kantor PLN untuk memprotes kenaikan tarif listrik karena dirasa terlalu tinggi untuk tingkat penghasilan mereka. Sepanjang pengetahuan saya, cuma Bung yang menulis surat protes tersebut. Saya masih ingat Bung menulis, “…kalau pensiunan pejabat tinggi seperti saya saja merasa berat dengan tarif tersebut, apalagi pensiunan pegawai negeri biasa…”

Tapi, sudahlah. Membandingkan Bung dengan orang-orang terkenal sekarang cuma menambah sakit hati. Dan, memang, antara Bung dan mereka ini tidak bisa diperbandingkan. Kita tidak bisa membandingkan emas dengan besi, bukan? Terlebih kalau besi itu ada yang sudah berkarat…

Bung Hatta terkasih,

Sementara saya menulis surat ini, 1 dollar Amerika sama dengan 11.365 rupiah. Sebagai ekonom, Bung tentu sangat paham bagaimana merosotnya kemampuan Bulik Ti, penjual rujak itu, untuk membeli beras dengan kurs seperti ini. Namun, saya berharap ini tidak mengganggu tidur panjang Bung di sana. Cukuplah kami di sini yang merasakan buah dari kesenangan kami meminjam uang kepada orang lain.

Pondok Hijau, 2001

Biko Sabri

Konsolidasi Blue Forces dalam Memenangkan Pemilukada DKI Jakarta 2012

Bertempat di Markas Blue Forces-ING Jl. KH.Mas Mansyur No.77 Kel.Kebon Melati Tanah Abang Jakarta Pusat, Rabu, 25 Juli 2012 sekaligus Buka Puasa bersama, Acara Konsolidasi dipimpin langsung oleh Erwin H.Al-Jakartaty Commandante Blue Forces-ING,
Hadir pada acara tersebut Rahmat H.S Ketum Forum Pemuda Betawi (FPB), Denny Barja Wk Ketua BARINDO, Hj Ayyie Ketum AMPIJA, Endri Permana Sekjen BRIGADE NUSANTARA, Ardy Gebang Ketum Forum Pemuda NTT, Ajat Sudrajat Ketum Komunitas Masyarakat Mandiri (KMM), Ivan Ardyansyah Ketum Aliansi Pro Rakyat, Iskandar Retno Ketum Asosiasi Musisi Anak Tanah Air, Humpry F.Lantang Atlantik Enterprise, Ibob R Sekjen Forum Masyarakat Andalas BangkiT (ForMAT Andalas), Konsolidasi juga dihadiri Pengurus Blue Forces, Komite Markas Wilayah (KMW) DKI Jakarta Ocho Santoso, Komite Markas Daerah (KMD) 5 kota Administrasi.
Tema Konsolidasi ” Selamatkan Jakarta bersama Fauzi Bowo & Nahrowi Ramli”
”Kita (tim sukses Foke) tidak membuka semua strategi kemenangan Foke-Nara dulu ke media. Kita fokus berkonsilidasi, berkoordinasi, dan mengevaluasi kinerja di Pilkada Jakarta putaran pertama kemarin. Terlepas dari hasil terakhir di putaran pertama yang membuat kita sedih, di luar prediksi dan itu membuat kita kaget,” ujar, Erwin H Al-Jakartaty .
Menurutnya, apa yang diperoleh tim Foke-Nara di putaran pertama adalah ujian menjelang bulan Ramadhan supaya berintropeksi diri. Mungkin Foke dianggap terlalu percaya diri dan isu itu dijadikan senjata oleh ’lawan’ politik di Pilkada Jakarta 2012 putaran pertama.
Ia pun menjelaskan, dirinya dan kawan relawan Foke-Nara mengintrospeksi diri dengan melakukan perombakan kinerja. Semua tim sukses turun ke bawah, khususnya Foke-Nara turun langsung ke masyarakat.  Mendengarkan aspirasi warga dan lebih dekat dengan masyarakat. Selain itu, pihaknya akan fokus bekerja dan terus tersenyum.
”Karena alasan itu saya tidak tertarik membahas ’fitnah’ yang diembuskan oleh beberapa pihak bahwa tim sukses Foke melakukan black campaign. Karena pihak Foke tidak akan pernah mengagendakan strategi kampanye seperti itu. Foke sebagai Gubernur DKI Jakarta tak mungkin melakukan hal tersebut. Apalagi Foke tokoh yang disimbolkan sebagai kaum pluralis,” lanjutnya.
Ia curiga isu SARA yang berhembus berasal dari pihak lawan atau bahkan pihak ketiga.  ”Di dunia politik, apa saja bisa dilakukan untuk memenangkan pemilu,” sambung Commandante Blue Forces Indonesia Next Generations, sebuah organisasi pemuda yang mendukung Foke-Nara .
Pihak Foke akan menggarap massa mengambang yang jumlahnya mencapai 2,5 juta suara, yang tidak dikerjakan secara serius di putaran pertama. Sedangkan basis massa suara Foke-Nara yang digarap serius di putaran pertama, namun tidak mendapatkan hasil optimal, akan tetap digarap di putaran kedua.
”Koalisi yang akan kita bangun adalah koalisi rakyat untuk melanjutkan pembangunan Jakarta yang sudah berjalan. Jangan sampai pemimpin Jakarta ke depan memiliki kepentingan politik. Seperti tage line Jakarta Baru. Jakarta Baru seperti apa yang diinginkan ??” tanya Erwin.

Temu Karya Nasional (TKN) VI Karang Taruna (KaTa)

Temu Karya Nasional Karang Taruna merupakan forum tertinggi Karang Taruna, yang dilaksanakan untuk memilih dan menetapkan pengurus serta menetapkan program kerja Pengurus Nasional Karang Taruna. Pada tahun 2010, kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 12 s.d 14 Juni 2010 di Ternate, Maluku Utara. Hadir dalam acara tersebut para pengurus Karang Taruna Provinsi dari seluruh Indonesia, Pengurus Nasional Karang Taruna dan Majelis Pertimbangan Karang Taruna.

Temu Karya Nasional menjelang ulang tahun Karang Taruna ke-50 merupakan momentum strategis untuk mengevaluasi penyelenggaraan pemberdayaan Karang Taruna, demikian dikatakan Dirjen Pemberdayaan Sosial, Drs. Rusli Wahid ketika membuka acara tersebut.

Karang Taruna sebagai organisasi kepemudaan di perdesaan, dengan jumlah sebanyak 62.096 organisasi di pusat dan daerah, merupakan potensi dan sumber kesejahteraan sosial serta komponen terdepan dalam menggerakkan pemuda untuk bersama dengan pemerintah mengatasi berbagai permasalahan kesejahteraan sosial.

Pada acara tersebut, terpilih Taufan Eko Nugroho Rotorasiko sebagai ketua umum Karang Taruna periode 2010 – 2015.
Taufan terpilih menggantikan Ketua Umum periode sebelumnya, Doddy Susanto, dalam Temu Karya Nasional (TKN) VI Karang Taruna di Ternate, Maluku Utara,

Taufan E.N. Rotorasiko menghadiri acara PRASASTI JAKARTA BAGUS

Calon Gubernur No. 6 Alex Noerdin, bersama Cagub Faisal Basri & Cawagub Riza Patria, Sempat hadir sebentar Cawagub No.4 Didik Rabu sore (04/07)  bertempat di  Taman Ismail Marzuki, menandatangani Prasasti Jakarta Bagus. Penandatangan prasasti ini dimaksudkan untuk mengingatkan para Cagub-Cawagub DKI Jakarta akan janji mereka selama kampanye.
Penandatanganan Prasasti Jakarta Bagus, sedianya dilakukan oleh ke-6 pasang Cagub-Cawagub DKI Jakarta yang bertarung pada Pemilukada DKI Jakarta 2012.
Prasasti Jakarta Bagus digagas oleh JakartaBagus.Com (JBC), bersama Rakyat Merdeka Online (RMOL). Pada prasasti yang ditandatangani oleh para kandidat ini, masing-masing termuat janji dan program kerja yang diusung para Cagub-Cawagub DKI Jakarta. Hal ini dilakukan sebagai langkah untuk mengawasi sejauh mana janji tersebut dapat dipenuhi, bila nanti salah satu dari Cagub-Cawagub ini terpilih pada pemilukada DKI Jakarta.
Penandatanganan prasasti Jakarta Bagus sendiri disaksikan oleh Pimpinan Rakyat Merdeka, Teguh Santosa, Wakil Ketua KPUD Jakarta, Suhartono, Ketua Panwaslu Jakarta, Ramdansyah, Ketua DPP KNPI sekaligus Ketua Karang Taruna Nasional  Taufan E.N.Rotorasiko, serta Pimpinan JakartaBagus.Com. dan Relawan Pemburu Mayat atau yg lebih dikenal dengan Relawan Dibo Piss yg diKomandoi oleh Firman Abadi. Ketua PanPel, Oddy Karamoy, menyatakan keyakinannya bahwa semua pasangan cagub dan cawagub akan membuat Jakarta menjadi lebih bagus.

134149931442558587

1341499204872182031