Yth Bung Hatta (Sebuah Apresiasi untuk para Pahlawan dihari Pahlawan 10 Nopember)

BUNG HATTA

Proklamator & Bpk Koperasi

Assalamu’ alaikum Bung Hatta. Sungguh saya berharap, Bung dalam keadaan bahagia, tak kurang suatu apa pun dalam tidur panjang ini. Mengenai kami di sini, dengan kesedihan yang teramat dalam, saya kabarkan bahwa kami tidak dalam keadaan baik-baik. Kami sekarang ini sedang menghadapi sebuah cobaan berat (sebagian bahkan menyebutnya sebagai ‘hukuman Tuhan’).

Jika Bung heran kenapa saya menyurati Bung di alam sana, baiklah, saya akan berterus terang: karena saya tidak melihat satu pun dari mereka yang hidup yang saya percaya dapat berbuat sesuatu untuk meringankan beban ini. Saya lihat, mereka sudah tidak dapat melihat lagi. Mereka semua buta. Mereka semua tuli. Mereka semua lumpuh. Karena itu, mereka bicara, bicara, bicara, bicara, bicara… Tidak ada yang mau diam.

(Saya teringat kisah ketika Bung hadir dalam penandatanganan penyerahan kedaulatan atas wilayah Nusantara. Bung hadir sebagai wakil Indonesia, sementara Ratu Juliana mewakili pemerintah Belanda. Saat itu, orang menggambarkan Bung “duduk diam seperti patung Budha.” Bibir tipis Bung lebih banyak diam dan membiarkan otak, tangan, kaki [dan hati yang selalu ingin memberi] melakukan fungsinya dengan segenap kemampuan.)

Saya rindu kepadamu, Bung Hatta. Rindu seorang warganegara kepada pemimpinnya. Kerinduan seorang pengikut kepada pemimpinnya. Serasa tak tertahankan kerinduan ini. Saat Anda meninggalkan kami, saat itu pula rasa hormat saya pada pemimpin ikut terkubur. (Sekarang, setelah menghitung-hitung kembali, tiba-tiba saya sadari, sudah lebih dari 20 tahun perasaan itu terkubur. Mungkin sudah terurai oleh bakteri-bakteri pengurai…)

Kini, Bung, saya sudah lupa bagaimana nikmatnya memiliki rasa hormat kepada pemimpin. Sudah terlalu lama ia hilang, digantikan oleh penderitaan akibat dominasi rasa muak.

Saya tidak minta apa-apa kepada Bung, karena Bung sudah tidak hadir lagi di alam sini. Bukan untuk itu saya menulis surat ini. Soal meminta, tentu saya hanya akan memohon kepada Sang Pengasih, yang telah berkenan menghadirkan Bung untuk turut menyebarkan kasih-Nya di bumi ini. Adapun maksud saya menulis surat ini semata-mata untuk mencoba mengobati kerinduan yang telah lama terkubur itu.

Maka, biarlah saya mengumbar kata-kata ini, sekadar untuk mengurangi rasa perih di dada, terutama ketika saya bertemu Bulik Ti, tetangga saya penjual rujak di kampung. Bung tahu, sejak lama ia mengeluh tentang harga beras yang terus naik, terasa makin sulit baginya untuk memberi makan anak-anaknya. Sudah beberapa tahun ini saya mencoba menghindar darinya. Maafkan saya, saya sungguh tak berani berbicara lama-lama dengannya. Bisa Bung bayangkan, sejak tahun 70-an Bulik Ti mengeluh tentang harga beras. Saat itu pun perihnya sudah terasa sampai ke ulu hati. Saya tak percaya bahwa saya sanggup mendengar keluhan yang lebih hebat itu sekarang ini…

Mohon maaf juga karena saya tidak berbuat apa-apa untuk memperbaiki keadaan. Saya cuma warganegara biasa, Bung. Kalau pun saya bicara, mereka tidak akan mendengar saya. Lagi pula, bagaimana mungkin bicara kepada orang-orang yang terus-terusan bicara dan tidak mau mendengar. Saya jelas tak setangguh Bung, yang tetap saja menulis surat kepada pemerintahannya Soeharto, kendatipun Bung tahu bahwa mereka juga enggan mendengar.

Bung Hatta tercinta,

Beberapa tahun lalu saya baca di koran tentang kekayaan para pemimpin negara ini. Jumlahnya besar sekali, Bung. Sampai bermiliar-miliar! Iseng-iseng saya berhitung: seberapa besar jasa yang telah mereka berikan kepada masyarakat, sehingga mereka dapat imbalan harta miliaran?

Lalu, saya coba bandingkan dengan jasa Bung semasa hidup: berjuang sejak usia muda, masuk kerangkeng, dibuang ke pengasingan, berdiri diam-tenang di samping Bung Karno ketika memproklamasikan kemerdekaan Indonesia (sungguh, itu membutuhkan keberanian moral yang luar biasa tinggi!). Sedangkan imbalan yang Bung terima adalah sebuah rumah dan uang pensiun. Saya tahu itu belum memadai untuk menghidupi pola hidup Bung yang teramat bersahaja untuk ukuran seorang pemimpin. Saya baca, Bung juga dapat tambahan penghasilan dari mengajar dan menulis. Tapi, itu pun ternyata belum menutupi, karena ada sanak-famili Bung yang diam-diam turut membantu.

Saya juga tidak pernah membayangkan bahwa para pemimpin masa kini menulis surat kepada Kantor PLN untuk memprotes kenaikan tarif listrik karena dirasa terlalu tinggi untuk tingkat penghasilan mereka. Sepanjang pengetahuan saya, cuma Bung yang menulis surat protes tersebut. Saya masih ingat Bung menulis, “…kalau pensiunan pejabat tinggi seperti saya saja merasa berat dengan tarif tersebut, apalagi pensiunan pegawai negeri biasa…”

Tapi, sudahlah. Membandingkan Bung dengan orang-orang terkenal sekarang cuma menambah sakit hati. Dan, memang, antara Bung dan mereka ini tidak bisa diperbandingkan. Kita tidak bisa membandingkan emas dengan besi, bukan? Terlebih kalau besi itu ada yang sudah berkarat…

Bung Hatta terkasih,

Sementara saya menulis surat ini, 1 dollar Amerika sama dengan 11.365 rupiah. Sebagai ekonom, Bung tentu sangat paham bagaimana merosotnya kemampuan Bulik Ti, penjual rujak itu, untuk membeli beras dengan kurs seperti ini. Namun, saya berharap ini tidak mengganggu tidur panjang Bung di sana. Cukuplah kami di sini yang merasakan buah dari kesenangan kami meminjam uang kepada orang lain.

Pondok Hijau, 2001

Biko Sabri

Bupati Sumedang 1883 – 1919

Pangeran Aria Suria Atmadja

Pangeran Aria Suria Atmadja

Raden Sadeli bin  Pangeran Suria Kusumah Adinata / Raden Somanagara dilahirkan di Sumedang tanggal 11 Januari 1851. Sebelum menjadi bupati Sumedang Raden Sadeli menjadi Patih Afdeling Sukapura –kolot di Mangunreja. Pada tanggal 31 Januari 1883 diangkat menjadi bupati memakai gelar Pangeran Aria Suria Atmadja (1883–1919).

Pangeran Aria Suria Atmadja wafat pada tanggal 1 Juni 1921 dimakamkan di Ma’la Mekkah ketika menunaikan ibadah haji sehingga di kenal sebagai Pangeran Mekkah. Untuk menghormati jasa-jasanya pada tanggal 25 April 1922 didirikan sebuah monumen berbentuk Lingga di tengah alun-alun kota Sumedang, yang diresmikan Gubernur Jenderal D. Fock serta dihadiri para bupati, residen sepriangan serta pejabat-pejabat Belanda dan pribumi.

Pangeran Aria Suria Atmadja memiliki jasa dalam pembangunan Sumedang di beberapa bidang, antara lain :

Bidang Perekonomian

Pada tahun 1901 membangun “Bank Prijaji” dan pada tahun 1910 menjadi “Soemedangsche Afdeeling Bank”. Pada tahun 1915 mendirikan Bank Desa untuk menolong rakyat desa.

Bidang Pendidikan

Pada tahun 1914 mendirikan Sekolah Pertanian di Tanjungsari dan wajib belajar diterapkan pertama kalinya di Sumedang. Pada tahun 1915 di Kota Sumedang telah ada Hollandsch Inlandsche School , mendirikan sekolah rakyat di berbagai tempat Sumedang dan membangun kantor telepon.

Bidang Politik

Pada tahun 1916 mengusulkan kepada pemerintah kolonial agar rakyat diberi pelajaran bela negara/mempergunakan senjata agar dapat membantu pertahanan nasional. Ide ini dituangkan dalam buku ‘Indie Weerbaar”/Ketahanan Indonesia, tapi usul ini ditolak pemerintah Belanda. Pangeran Aria Suria Atmadja tidak mengurangi cita-citanya, disusunlah sebuah buku yang berjudul ‘ Ditiung Memeh Hujan” dalam buku itu dikemukakan lebih jauh lagi agar Belanda kelak perlu mempertimbangkan dan mengusahakan kemerdekaan bagi rakyat Indonesia. Pemerintah kerajaan Belanda memberi reaksi hingga dibuat benteng di kota Sumedang, benteng gunung kunci dan Palasari.

Membangun rumah untuk para kepala Onderdistrik, dibangunnya balai pengobatan gratis, dan menjaga keamanan diadakan siskamling.

Masih banyak jasa lainnya dan atas segala jasanya dalam membangun Sumedang, baik itu pembangunan sarana fisik tetapi juga pembangunan manusianya. Pangeran Aria Suria Atmadja mendapat berbagai penghargaan atau tanda jasa dari pemerintah kolonial Belanda salah satunya tanda jasa Groot Gouden Ster (1891) dan dianugerahi beberapa bintang jasa tahun 1901, 1903, 1918, Payung Song-song Kuning tahun 1905, Gelar Adipati 1898, Gelar Aria 1906 dan Gelar Pangeran 1910.

Pada masa pemerintahan Pangeran Aria Suria Atmadja mendapatkan warisan pusaka-pusaka peninggalan leluhur dari ayahnya Pangeran Aria Suria Kusumah Adinata/ Raden Somanagara, Pada tangggaraal 20 Januari 1836 Raden Somanagara dilantik menjadi Bupati Sumedang dengan gelar Tumenggung Suria Kusumah Adinata (1836 – 1882).  Pangeran Aria Suria Atmadja mempunyai maksud untuk mengamankan, melestarikan dan menjaga keutuhan pusaka. Selain itu agar pusaka merupakan alat pengikat kekeluargaan, kesatuan dan persatuan wargi Sumedang, maka diambil langkah sesuai agama Islam Pangeran Aria Suria Atmadja mewakafkan pusaka ia namakan sebagai “barang-barang banda”, “kaoela pitoein”, “poesaka ti sepuh”, dan “asal pusaka ti sepuh-sepuh” kepada Tumenggung Kusumadilaga pada tanggal 22 September 1912, barang yang diwakafkannya itu tidak boleh diwariskan, tidak boleh digugat oleh siapa pun juga, tidak boleh dijual, tidak boleh dirobah-robah, tidak boleh ditukar dan diganti.

Dengan demikian keutuhan, kebulatan dan kelengkapan barang pusaka terjamin. Wakaf mulai berlaku jika Pangeran Aria Suria Atmadja berhenti sebagai bupati Sumedang atau wafat. Pada tahun 1919 Pangeran Aria Suria Atmadja berhenti sebagai bupati Sumedang dengan mendapat pensiun.

Organisasi 5 Jari

logo-katar-header.gifOrganisasi ibarat lima buah jari …
Ibu Jari adalah Pemimpin sebuah organisasi..
Jari Telunjuk adalah Para Anggota dan Bidang Pendukung…
Jari Tengah adalah Tujuan yang akan dicapai…..
Jari Manis adalah sebuah Kepercayaan ……
Jari Kelilingking adalah sebuah Gerakan (Action) ….
Jika kelima jari ini utuh..…..
maka kita bisa mengenggam sebuah impian dengan kuat…dan sebuah impian akan terwujud dengan mudah.
Ketika jari kelingking hilang, maka akan berkurang tenaga untuk menggenggam sebuah impian…
organisasi tetap akan berjalan, namun sulit untuk menggapai sebuah impian jika tidak ada sebuah gerakan perubahan….
Ketika jari kelingking dan jari manis hilang….
maka kekuatan untuk menggenggam sebuah impian akan semakin melemah….
organisasi masih tetap berjalan…tapi akan sulit untuk menyatukan impian dan kepercayaan, karena masing-masing merasa orang yang paling benar, tidak ada sikap saling terbuka dan percaya. Masalah yang timbul tetap akan menjadi bayang-bayang ketidaksuksesan.
Ketika jari kelingking, jari manis dan jari tengah hilang…..
Maka Genggaman sebuah impian akan semakin surut,, sulit untuk memegang sebuah impian hanya dengan ibu jari dan jari telunjuk.

Impian bisa terlepas kapan saja. organisasi hanya tinggal sebuah perkumpulan yang tidak bermakna jika tidak ada tujuan didalamnya.
Ketika yang tersisa hanya sebuah ibu jari..
maka tidak ada lagi sebuah organisasi, karena pada dasarnya ibu jari tidak bisa memegang, apalagi menggenggam….
tidak ada organisasi yang didirikan hanya dengan satu orang. Yang ada hanya impian pribadi, bukan impian organisasi….
dan yang tidak kalah penting……
”Organisasi ibarat sebuah api unggun dan kader-kadernya adalah kayu bakarnya.
Untuk membuat api terus membesar harus ada kayu bakar baru yang tersedia”
Proses regenerasi juga memiliki peran penting dalam kelangsungan organisasi, bila proses regenerasi tersebut terhambat maka proses berjalannya organisasi itu juga akan terganggu seperti api unggun yang kehabisan kayu bakar……maka diperlukan kader-kader baru untuk membuat estapet sebuah organisasi tetap berjalan…..sehingga ibu jari tidak tinggal sendirian..
sumber ( http://filsafat.kompasiana.com/2012/04/10/organisasi-lima-jari/ )

Jati Diri Karang Taruna Membangun Bangsa

Jati Diri KATA
Jakarta– Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Gunawan Sumodiningrat menilai masih belum banyak literatur tentang kiprah pemuda Indonesia dalam membangun desanya. Padahal, banyak anak muda di pelosok nusantara yang memiliki  kepedulian tinggi terhadap lingkungannya.
“Tidak banyak buku yang ditulis anak-anak muda tentang  tentang bagaimana peran pemuda desa dalam mengatasi masalah kesejahteraan sosial, padahal potensinya ada,” kata Gunawan dalam bedah buku “Jati Diri Karang Taruna Membangun Bangsa” di Gedung Wanabakti Wanita Tama, Yogyakarta, Minggu.
Dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, minggu, juga menyebutkan bahawa acara tersebut juga dihadiri Kasubdit Karang Taruna Kementerian Sosial, Afrizon Tanjung, Ketua Karang Taruna Daerah Istimewa Yogyakarta GKR Pembayun dan Sosiolog Faraz Umaya.
Menurut Gunawan, Karang Taruna sebagai organisasi sosial yang berkiprah nyata di desa, diharapkan membudayakan menulis buku soal perjuangan mereka dalam mengatasi persoalan sosial di desa.  “Supaya perjuangan itu bisa menjadi inspirasi bagi anak muda lainnya,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Nasional Karang Taruna, Taufan E.N. Rotorasiko mengatakan, Karang Taruna yang sudah berusia 51 tahun adalah bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan desa, sehingga sudah saatnya peran nyata itu dituangkan dalam sebuah buku.
“Buku ini ditulis untuk menyemangati pemuda desa di seluruh Nusantara untuk menggali nilai-nilai kekarangtarunaan serta berbagi kisah perjuangan, kerja keras mereka sebagai pemuda khususnya pengurus Karang Taruna, dalam membangun desa dan mengatasi permasalahan kesejahteraan sosial,” ujarnya.
Ditambahkannya, budaya literasi harus dikembangkan di kalangan anak muda dalam menuangkan gagasan, konsep pemikiran dan aspirasi dalam membangun bangsa. Apalagi, banyak pemuda desa yang menjadi pelopor dalam mensejahterakan masyarakat sekitarnya.
“Para pemuda itu tidak berdiam diri. Mereka bekerja dan bisa menjadi contoh dan inspirasi bagi pemuda lainnya. Menuangkan inspirasi itu dalam bentuk buku adalah bagian dari upaya mendidik pemuda Indonesia yang berkarakter,” katanya.

Menurut Taufan, membangun Indonesia harus dimulai dari desa. “Karang Taruna bertekad untuk menciptakan lebih banyak pemuda yang membangun desa,” katanya.

KPU tetapkan 10 PARPOL peserta PEMILU 2014

Setelah menggelar Rapat Pleno Rekapitulasi hasil Verifikasi Faktual di Ruang Sidang KPU Jl. Imam Bonjol No.29 Jakarta, Selasa 8/01/2013 KPU akhirnya memutuskan :

Keputusan KPU Nomor: 05/Kpts/KPU/Tahun 2013

Ke 10 Parpol yang ditetapkan sebagai peserta Pemilu 2014 adalah:
1. Partai Amanat Nasional (PAN)
2. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)
3. Partai Demokrat;
4. Partai Gerindra;
5. Partai Golkar;
6. Partai Hanura;
7. Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
8. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
9. Partai Nasional Demokrat (Nasdem)
10. Partai Persatuan Pembangunan (P3).

10-parpol-pemilu-2014 i

 

544022_250431195088283_298419285_n

24 PARPOL yang tidak Memenuhi syarat:
1. PBB
2. PDKP
3. PKPI
4. PKBIB
5. PPRN
6. PPN
7. PBI
8. Partai Buruh
9. PDS
10. PDK
11. PKPB
12. PAKAR
13. PKNU
14. Partai Kedaulatan
15. PKDI
16. Partai Kongres
17. PNBKI
18. PNI
19. Partai Nasrep
20. PPDI
21. PPPI
22. Partai Republik
23. Partai Republika Nusantara
24. Partai Serikat Rakyat Independen.

TAGANA berdayakan “Generasi Muda”

Tagana (Taruna Siaga Bencana), adalah suatu organisasi sosial yang bergerak dalam bidang penanggulangan bencana alam dan bencana sosial yang berbasiskan masyarakat. Pembentukan Tagana merupakan suatu upaya untuk memberdayakan dan mendayagunakan generasi muda dalam berbagai aspek penanggulangan bencana, khususnya yang berbasis masyarakat. Keberadaan Tagana di DKI Jakarta selama sekitar 6 tahun ini ( Desember 2006) 381751_10150403929507781_531712780_8475175_833229937_n

Taruna Siaga bencana

Taruna Siaga bencana

telah banyak melakukan kegiatan kemanusiaan dalam bencana dan kegiatan kesejahteraan sosial yang akhirnya menjadi salah satu organisasi yang diterima oleh masyarakat. Selain itu hampir semua anggota Tagana telah mengikuti pelatihan dibidang penanggulangan bencana dan bidang kesejahteraan sosial, menyebabkannya mampu melaksanakan aneka peranan di bidang penanggulangan bencana. Sebagai suatu organisasi, Tagana mampu mengembangkan program dan kegiatannya secara berkelanjutan. Tagana sebagai relawan penanggulangan bencana berbasis masyarakat yang bermartabat dan handal di bidang bantuan sosial harus dibekali keahlian yang cukup, pendidikan dan pelatihan secara periodik. (ziz)